Tampilkan postingan dengan label Progresivisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Progresivisme. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2016

Pandangan Progresivisme terhadap Kurikulum dan Metode

Kurikulum bersifat fleksibel, tidak kaku, bisa diubah sesuai dg kehendak zaman, terbuka dan tidak terikat oleh doktrin tertentu sehingga dapat dievaluasi dan direvisi sesuai kebutuhan. Kurikulum lebih difokuskan pada proses daripada isi. 

Pandangan Progresivisme tentang Asas Belajar

Pandangan aksiologi tersebut berimplikasi pada padangan tentang asas belajar menurut progresivisme sebagai berikut.

Landasan Aksiologis Progresivisme

Kaum progressif meyakini bahwa nilai-nilai berasal dari masyarakat. Nilainilai bukan suatu kualitas yang sudah tetap dalam diri subjek, juga bukan sesuatu yang berasal dari wahyu, melainkan berpusat pada manusia itu sendiri. 

Landasan Epistemologis Progresivisme

Progresivisme memang menolak metafisika, tetapi mereka sangat vokal mengenai epistemologi. Epsitemologi ditempatkan sebagai pusat dari filsafatnya (Akinpelu, 1988: 144). Mereka meyakini bahwa pengetahuan tidak ada artinya tanpa pengalaman manusia yang terus berproses dan disempurnakan. 

Landasan Ontologis Progresivisme

Kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu, pengalaman manusia tentang penderitaan, kesedihan, kegembiraan, keindahan dan lain-lain adalah realita hidup manusia sampai ia mati.

Progresivisme

Aliran progresivisme lahir di Amerika Serikat sekitar tahun 1870. Para reformis yang menamakan diri kaum progressive menentang sistem pendidikan tradisional yang sangat kaku, menuntut disiplin ketat, dan membuat peserta didik menjadi pasif.