Tampilkan postingan dengan label Perenialisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perenialisme. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2016

Pandangan tentang Peserta Didik dan Pendidik

Peserta didik diharapkan mampu mengenal dan mengembangkan karyakarya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar masa lampau seperti Bahasa, Sastera, Sejarah, Filsafat, Politik, Ekonomi, Matematika, Ilmu Alam, dan ilmu-ilmu lainnya yang terbukti dalam sejarah telah memberi kontribusi yang besar bagi umat manusia.

Pendidikan Moral

Pendidikan Thomistik, khususnya dalam sekolah katolik klasik, dimaksudkan menjadi pendidik yang berbuat/dikomitkan untuk nilai-nilai supernatural (Ketuhanan). Hal ini dimaksudkan mendidik individu seperti Kristus. 

Perbedaan: Mengajar dan Belajar menurut Thomas Aquinas

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa Perenialisme mengikuti pemikiran pendidikan para tokoh terdahulu seperti Plato, Aristoteles, dan juga Thomas Aquinas.

Konsep Pendidikan menurut Perenialisme

Manusia hidup di alam dan lingkungan sosial dan memiliki jasmani. Bahwa pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan manusia menopang jasmani dan eksitensi jiwanya juga termasuk dalam kurikulum. 

Landasan Aksiologis Penerialisme

Nilai-nilai berdasarkan azas supranatural yang abadi dan universal. Manusia sebagai subjek telah memiliki potensi untuk menjadi baik sesuai dengan kodratnya, tetapi ada kecendrungan dan dorongan untuk berbuat tidak baik. 

Landasan Epistemologis Perenialisme

Perenialisme berpandangan bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan bersandar pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian antara pikir dengan benda-benda. 

Rabu, 07 Desember 2016

Landasan Ontologis Perenialisme

Ontologi perenialisme mengikuti paham Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk rasional (animal rationale). Benda individual adalah benda sebagaimana nampak di hadapan manusia ditangkap oleh panca indera sebagai substansi. Segala sesuatu (benda dan manusia ) ada esensinya di samping ada aksidensi.